Breaking News
Home / GAYA HIDUP / 5 Penyebab dan Gejala Terjadinya Gangguan Pendengaran

5 Penyebab dan Gejala Terjadinya Gangguan Pendengaran

Telinga adalah salah satu organ yang paling sensitif pada tubuh. Sehingga, sangat sensitif dan mudah mengalami kerusakan.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pada tahun 2012 bahwa 260 juta atau sekitar 5,3 persen penduduk dunia mengalami tuli. 91 persen di antaranya adalah orang dewasa dan sisanya anak-anak. Dari 9 persen anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran tersebut, separuh diantaranya berada di Asia.

Di Indonesia, gangguan pendengaran dan ketulian disebabkan oleh berbagai macam faktor dengan lima penyebab utama. Dari survei pemerintah yang dilakukan pada tujuh propinsi di tahun 2015.

Penyebab pertama ketulian adalah radang telinga tengah menahun yang disebut dengan congek atau otitis media supuratif kronis (OMSK). Penyakit yang mengenai 3,1 persen atau sekitar 7,8 juta orang tersebut disebabkan oleh peradangan yang terjadi pada telinga bagian tengah.

Gejala awal dari penyakit yang biasanya terkena pada anak-anak ini adalah batuk pilek, dan rasa nyeri, hingga demam setinggi 40 derajat celsius. Kemudian, pada tingkat parah, akan keluar cairan yang semula berwarna jernih hingga bernanah.

Kedua, tuli kongenital atau sejak lahir yang mengenai 0,1-0,2 persen bayi lahir dengan prevalensi satu dari 5.200 bayi lahir. Penyebab terjadinya gangguan ini adalah penggunaan obat toksik pada saat hamil atau bumi, yang terkena infeksi TORCHS.

“Ketiga, sebesar 20-30 persen ketulian bisa dipicu oleh suara bising dimana biasanya terjadi pada pekerja industri. Dampak dari kebisingan terus-menerus dapat berdampak ketulian sementara atau permanen,” terang Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Telinga, Hidung, Tenggorokan dan Bedah Kepala Leher Indonesia (Perhati-KL), dr Soekirman Soekin, SpTHT-KL dalam press briefing di Kementrian Kesehatan.

Beberapa gejala awal ketulian akibat bising di antaranya adalah tinitus (telinga berdenging), susah tidur, tekanan darah tinggi, gangguian pencernaan, dan emosi tinggi.

Usia rupanya juga ikut menyumbang angka yang besar dalam hal gangguan pendengaran, yaitu 2,6 persen di Indonesia. Ketulian akibat bertambahnya usia atau disebut juga presbikusis, paling tinggi terjadi pada mereka yang berusia di atas 75 tahun, yaitu sekitar 40-50 persen.

Terakhir, penyebab utama dari gangguan pendengaran di Indonesia adalah serumen atau kotoran telinga yang terlalu banyak. Biasanya, serumen dialami anak-anak dengan presentase 30-50 persen.Serumen prop atau sumbatan serumen adalah kondisi tersumbatnya telinga oleh kotoran telinga (serumen) yang telah menggumpal keras dan membatu.

Gangguan serumen prop merupakan gangguan yang paling sering ditemukan di antara sekian banyak gangguan pada telinga. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalami kasus serumen prop ini.

Perlu diketahui bahwa setiap hari telinga kita memproduksi kotoran yang disebut serumen. Serumen atau kotoran telinga berbentuk seperti cairan lilin yang lengket dan berwarna kuning yang merupakan hasil sekresi dari kelenjar seruminosa di liang telinga.

Comments

comments

About iBaca

Sebuah media blog yang mengulas topik tentang blogging, news, social media, teknologi, entrepreneurship, inspirasi dan motivasi, dan beberapa topik lain yang menurut kami menarik.